Latest News

Sabtu, 03 November 2018

Mendoakan dan Mengenang (Homili Perayaan Ekaristi Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, 2 November 2018)

Gambar terkait










Homili: RD. Frans Kristi Adi Prasetya


Hari ini kita mendoakan dan mengenang saudara-saudara kita yang telah meninggal namun masih berada di Api Penyucian. Bahkan seluruh bulan November ini kita khususkan untuk berdoa dan berkorban untuk memohon kerahiman Allah atas mereka. Hal ini kita lakukan karena di dalam Yesus Kristus, Penyelamat semua orang yang, merindukan keselamatan dari Allah dengan tulus hati, kita tetap bersatu padu dengan mereka. Dalam iman akan Kristus itu, kita percaya bahwa apa yang kita namakan Persekutuan para Kudus meliputi baik kita yang masih hidup di dunia ini, maupun semua Orang Kudus di surga, dan semua orang yang telah meninggal. Bersama-sama kita membentuk dan terhimpun di dalam satu Gereja, yaitu Tubuh Mistik Kristus. Dalam Kamus Teologi yang disusun oleh Rm. Gerald SJ dan Rm Farrugia SJ, ada tiga macam Gereja yaitu Gereja Jaya (para kudus di surga yang kita rayakan kemarin), Gereja militan (yaitu kita yang masih berjuang di dunia), dan Gereja yang menderita (jiwa-jiwa di api penyucian). Nah, inilah yang sekarang ini kita bawa dalam doa-doa secara khusus. 


MENGENANG – mengingat kembali, membangkitkan kembali dalam ingatan. Doa kita akan terlantun tulus benar-benar demi keselamatan jiwa saat yang kita masukkan dalam ingatan adalah pengalaman positif dan cinta. Tapi emosi negatif, luka, dendam, akan membuat segala hal baik terlupakan. Saya mengajak anda untuk mengenang hal-hal baik, mengenang cinta saudari-saudara kita yang telah meninggal. Ini akan berdampak baik tidak hanya untuk orang yang kita kenang dan lebih-lebih didoakan, tapi juga akan menghapus setiap rasa sesal, rasa bersalah, luka, apalagi dendam yang membebani hidup kita. Saya sering berjumpa dan mendengar kisah orang yang mengatakan betapa berat dan merasa bersalahnya iya karena sampai ortunya meninggal ia menyimpan luka, tidak bisa membahagiakan, tidak mengucapkan maaf, dan lain sebagainya. Mengenang hal-hal positif dan cinta saudari-saudara kita yang telah meninggal juga akan memberi kekuatan pada kita juga untuk mengenang hal-hal baik yang dilakukan orang-orang di sekitar kita. 

Ada kisah demikian: 
Dua orang biksu yang sedang bepergian tiba di tepi sebuah sungai, sungai itu cukup dalam, dan ternyata jembatan yang biasa digunakan orang-orang untuk menyebrang, patah.
Disitu tampak seorang wanita cantik yang mengenakan pakaian sutera mewah, dia terlihat sedang kebingungan. Kedua biksu itupun menghampirinya, dan menanyakan apa yang sedang dia lakukan dan mengapa dia tampak begitu kebingungan.
Rupanya dia ingin menyeberang, namun khawatir jika dia berjalan melewati sungai itu, baju suteranya akan kotor dan rusak, jadi dia hanya bisa diam dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Kedua biksu ini ingin membantu namun tahu bahwa seorang biksu tidak boleh bersentuhan dengan wanita, maka merekapun tidak dapat berbuat apa-apa.
Merasa sedang buru-buru, kedua biksu itupun memutuskan untuk segera berangkat dan menyeberangi sungai.
Biksu yang lebih muda segera pamit pada wanita itu dan bergegas turun ke sungai, sementara biksu yang lebih tua, justru berkata kepada wanita itu bahwa dia akan membantunya.
Belum sempat wanita itu menjawab, biksu yang lebih tua segera menggendongnya dan turun ke sungai, dan menyeberang ke sisi lain sungai.

Sesampainya di seberang, wanita itu segera turun, dan , bukannya berterima kasih kepada biksu, wanita itu justru mendorongnya, dan kemudian berjalan pergi dengan wajah kesal.

Biksu muda yang melihat merasa aneh, mengapa biksu yang lebih tua menggendong seorang wanita, namun dia diam saja.

Kedua biksu itupun melanjutkan perjalanan mereka.

Biksu yang lebih muda terus memikirkan peristiwa tadi di sepanjang jalan, bahkan ketika mereka sudah sampai tujuan, bahkan sampai tiga hari, dan tiga minggu setelahnya. Akhirnya saking tersiksanya, sampai ia tak bisa bermeditasi, dia tidak tahan dan bertanya kepada biksu tua.

“Bukankah kita ini biksu? Bukankah biksu tidak boleh bersentuhan dengan wanita? Lalu mengapa tadi kamu menggendong seorang wanita?” Tanya biksu yang lebih muda ke biksu yang lebih tua

Dijawab: “Menggendong wanita? Wanita mana yang saya gendong? Sekarang ini, Saya tidak sedang menggendong siapapun. Saya sudah menurunkan wanita itu di tepi sungai, tapi engkau masih menggendongnya sampai di sini dan saat ini. 

Semoga hari ini, saat kita mengenang arwah saudari-saudara kita, kita diingatkan tentang kenangan kasih dan kebaikan mereka, sekecil apapun supaya kita mampu mendoakan mereka dengan tulus –untuk gereja yang menderita – agar dilepaskan dari siksa dosa. Semoga kitapun dilepaskan dari beban-beban masa lalu, luka, kekecewaan, mungkin kemarahan karena betapa indahnya menjalani hidup dengan lepas bebas, positive thingking, sukacita, dan penuh rasa syukur. Dimuliakanlah nama Tuhan kita Yesus Kristus kini dan sepanjang masa. 

1 komentar:

Visi Paroki

Paroki Santo Lukas Pemalang adalah persekutuan umat Katolik yang beriman mendalam, hidup, mandiri, dan memasyarakat sebagai tanda hadirnya Kerajaan Allah.




Recent Post