Latest News

Renungan Alkitab
Pengajaran Iman

Orang Muda Katolik

Dialog dan HAK

Kebangsaan

Kisah Inspirasi

Recent Posts

Senin, 28 Januari 2019

SEMESTA BERNYANYI

SEMESTA BERNYANYI
25 Januari 2019, Penutupan Pekan Doa Kristiani, Konser Drama Musikal “Semesta Bernyanyi” di paroki St. Lukas Pemalang

Dalam rangka penutupan pekan doa untuk persatuan umat Kristen, 25 Januari 2019, Paroki St. Lukas Pemalang bekerjasama dengan Orang Muda Katolik Paroki St. Lukas Pemalang menyelanggarakan kegiatan Konser Drama Musikal “Semesta Bernyanyi”. Acara diadakan hari Jumat, 25 Januari 2019, dan dihadiri juga oleh 4 pendeta dan orang muda dari jemaat masing-masing gereja yang dipimpin oleh pendeta ini. Mereka adalah Pendeta Happy, pendeta GPPS, yang sekaligus ketua BKSG kab. Pemalang, Pendeta David Budiman dari GBI, Pendeta Wieratmo dari GKJ, dan Pendeta David dari GKI. Dari Gereja Katolik sendiri, datang kurang lebih 300 umat Katolik, dan tidak hanya dari Pemalang. Orang Muda Katolik dari paroki Tegal, Paroki Mejasem, Paroki Batang juga tampak hadir memeriahkan kegiatan ini. Halaman Gereja sudah dipenuhi umat saat open gate jam 17.00. Di halaman Gereja St. Lukas, disuguhkan instalasi lingkungan hidup, photobooth, dan disediakan jajan pasar yang bisa disantap dalam suasana kebersamaan dan persaudaraan, sambil menunggu pintu Gereja dibuka. 

Tepat jam 18.00 wib, diawali dengan doa angelus, kami membuka seluruh rangkaian acara ini. Dalam sambutannya, romo paroki menjelaskan tentang tujuan kegiatan ini. Yang pertama, kegiatan ini mengupayakan kebersamaan antara Gereja Katolik dan Gereja-gereja Protestan. Tidak hanya mengupayakan kebersamaan dan persaudaraan tapi juga memikirkan kontribusi umat Kristiani bagi kabupaten Pemalang dan Indonesia pada umumnya. Kontribusi apa yang ingin diberikan untuk Gereja dan semesta? Penutupan Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristen selalu jatuh pada tanggal 25 Januari, pada saat Gereja Katolik merayakan peringatan wajib Bertobatnya St. Paulus. Pertobatan yang ingin kami buat dengan kegiatan ini adalah Pertobatan Ekologis. Oleh karena itu, OMK mengangkat tema “Semesta Bernyanyi”, sebuah lagu yang berisi tentang keindahan lingkungan hidup, keseimbangan relasi antara manusia dan semesta, sehingga mampu memuji Tuhan. Geliat tema ini juga tak bisa dilepaskan dari ensiklik Paus Fransiskus, “Laudato Si!” Inilah salah satu kontribusi Gereja untuk semesta - memelihara lingkungan hidup, termasuk hal ini yang akan menjadi tema besar dari gelaran Temu Raya OMK se-dekanat utara, bulan Juni/Juli 2019 nanti.

Di akhir sambutan, diundanglah romo dan para pendeta untuk berdoa bersama umat, mendoakan doa untuk persatuan umat Kristen: “pandanglah kawanan domba Yesus. Semoga semua yang telah dikuduskan oleh satu pembaptisan, dipererat pula oleh persatuan iman dan ikatan kasih. Buatlah kami semua menjadi satu kawanan dengan Yesus sendiri sebagai satu-sautnya Gembala, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala abad. Amin.”

Drama musikal berlangsung kurang lebih satu jam di bagian puncak acara, bercerita tentang kerusakan alam yang diakibatkan oleh keegoisan manusia, mengejar harta kekayaan tapi melupakan keseimbangan alam. Tokoh protagonis adalah orang-orang muda yang membawa kesadaran tentang pentingnya menjaga kelestarian alam yang dilandasi oleh cinta mereka pada Tuhan, sang pencipta. Lagu-lagu seperti Lestari Alamku, Lagu OMK Pasti Bisa (karangan Abe, OMK Pemalang), dan Lagu Semesta Bernyanyi dilantunkan dengan ceria dan enerjik oleh OMK Paroki St. Lukas Pemalang. Semoga kegiatan bersama dalam pekan doa untuk kesatuan umat Kristen ini menjadi kerikil kecil yang dilempar ke kolam, yang riaknya meluas bagi lebih banyak orang. 

Beriman adalah dorongan untuk bergerak. Tidak hanya berlutut, dan bertelut, tapi juga melangkahkan kaki. Tidak hanya menengadah ke atas, tapi juga melihat dan peduli pada sekitar, pada sesama.

Berkah Dalem.









Senin, 24 Desember 2018

Pesan Natal Bersama KWI dan PGI 2018

YESUS KRISTUS HIKMAT BAGI KITA



Gua Natal di Gereja Paroki St Lukas Pemalang


Saudara-saudari terkasih,
Setiap kali merayakan Natal, kita bersukacita atas kelahiran Yesus. Peristiwa ini sungguh menyatakan betapa besar kasih Allah kepada kita: “sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh yang kekal” (Yoh 3: 16). Kedatangan-Nya disambut baik oleh para gembala, yakni orang-orang kecil yang merindukan Juruselamat, maupun oleh orang-orang Majus, yakni kalangan bijak dan terhormat yang mencari kebenaran dan keselamatan. Janji Allah akan keselamatan terwujud dalam diri Yesus, yakni meskipun Anak Allah telah “merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:8). Melalui kerendahan hati dan pengorbanan diri, Yesus melaksanakan rencana Allah untuk menyelamatkan manusia. Begitulah hikmat Allah yang berbeda dengan hikmat dunia. Itulah sebabnya Paulus menyebut Yesus sebagai hikmat Allah bagi Kita (I Kor 1: 24, 30).
Sudah lebih dari dua ribu tahun Yesus datang ke dunia, tetapi karya keselamatan yang Dia tawarkan kepada umat manusia masih harus terus diwujudkan. Banyak orang telah menanggapi undangan Allah ini dalam hidup sehari-hari, di antaranya, dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM). Akan tetapi, kita masih menjumpai orang yang tidak peduli pada suara hati dan tidak mengindahkan hati nurani serta tidak malu terhadap sesamanya dan tidak takut kepada Allah hingga berbuat sesuatu yang melanggar hak asasi manusia. Tiada lagi sukacita dan gembira ketika manusia diperlakukan tidak adil oleh sesama; saat HAM diinjak-injak.
Saudara-saudara terkasih,
Hak asasi manusia adalah hak dasar yang melekat yang dianugerahkan Allah kepada setiap orang. Perwujudan HAM secara baik dan benar membuat manusia hidup secara manusiawi. Dalam Perjanjian Lama, Allah memanggil para nabi, salah satunya, untuk mewujudkan keadilan yang juga berkaitan dengan HAM. Nabi Amos mengingatkan bahwa mereka yang menginjak-injak hak asasi orang-orang lemah dan miskin tidak akan hidup sejahtera (bdk. Am 5:11-12). Lalu, Amos mengajak umatnya: “Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup; dengan demikian TUHAN, Allah semesta alam, akan menyertai kamu….” (Am 5: 14).
Kita patut bersyukur kepada Allah karena bangsa Indonesia menjunjung tinggi HAM. Kita pantas berterima kasih kepada pemerintah yang telah berusaha menangani masalah HAM secara serius. Sekalipun demikian, persoalan HAM masih terjadi di sejumlah tempat. Pelanggaran HAM berat di masa lalu belum selesai secara tuntas. Hak hidup layak di bidang ekonomi, sosial dan budaya yang berkaitn dengan keamanan dan kenyamanan hidup masih terganggu di beberapa daerah. Kebebasan berbicara dan berujar dikacaukan oleh maraknya ujar kebencian dan berita bohong yang kadang disertai kekerasan baik secara fisik maupun psikis. Ancaman, pengrusakan dan penutupan rumah ibadah masih terjadi. Izin mendirikan rumuh ibadah masih tersendat. Eksploitasi alam berlebihan dan transaksi penjualan tanah masih merugikan masyarakat tertentu. Hak ekologis untuk menikmati lingkungan yang sehat tidak sepenuhnya dirasakan, terutama oleh kalangan masyarakat sederhana, karena pencemaran air, tanah dan udara. Hal-hal sedemikian merupakan pelanggaran terhadap HAM dan itu adalah tindakan manusia yang hidup menurut hikmat dunia.
Syukur kepada Allah, berkat Yesus Kristus kita dipanggil untuk hidup menurut hikmat ilahi. Yesus Kristus itulah hikmat Allah bagi kita. Kristus itulah yang mengajarkan kita nilai-nilai Kerajaan Allah serta mengajak kita hidup saling mengasihi dan rela berkorban demi terciptanya kesejanteraan bersama. Yesus menunjukan hikmatnya, melalui pewartaan Injil dan tindakan belaskasihan untuk menguduskan dan menebus kita. Paulus merumuskannya dengan bagus: “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (1 Kor 1:30).
Kita diajak untuk menyadari panggilan sebagai pribadi berkhitmat yang dipilih untuk melayani bukan untuk dilayani. Prilaku pemimpin yang koruptif telah merusak kesadaran moral masyarakat, seolah jalan pintas yang tidak pantas adalah cara cepat mencapai keberhasilan. Tindakan koruptif sering berhubungan dengan pelanggaran HAM. Untuk itu, kita membutuhkan pemimpin dan wakil rakyat yang penuh hikmat. Hal ini sejalan dengan sila ke-4 Pancasila: “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Saudara-saudari terkasih,
Natal mengingatkan kita akan hikmat Allah yang terwujudkan dalam diri Yesus. Natal bukan semata mengenang kelahiran Yesus sebagai bayi di atas palungan, tetapi juga kehidupan Yesus yang penuh hikmat dan dicurahi Roh Kudus. Ia datang membawa Tahun Rahmat Tuhan (bdk. Luk 4: 18-19). Kata-katanya tidak menekan, tetapi menyejukkan. Nasihatnya tidak meninabobokan, tetapi menegur dan memberi jalan. Tegurannya bukan penghujatan, tetapi jalan keselamatan. Ajarannya bukan asal menyenangkan, tetapi mengembalikan martabat manusia. Saat ditanya murid-murid Yohanes apakah Dia itu Mesias, Yesus menjawab: “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk 7:22).
Marilah kita merayakan Natal bukan hanya dengan nyanyian dan pujian saja, tetapi juga dengan upaya konkret untuk hidup dalam hikmat Allah. Kita diajak untuk membela hak-hak asasi manusia sebagai ungkapan kewajiban asasi manusia. Perayaan kelahiran Yesus, Sang Juruselamat, menjadi saat dan kesempatan untuk memahami hakikat HAM secara baik dan benar, menyadari luhurnya martabat manusia dan pentingnya gerakan menghormati hak asasi manusia.
Semoga Natal ini sungguh menjadi saat bagi kita untuk bersukacita dan bergembira. Yesus, Sang Imanuel dan Hikmat Allah bagi kita, sungguh lahir di tengah-tengah kita dan memimpin kita untuk hidup dalam hikmat Allah.

SELAMAT NATAL 2018 DAN TAHUN BARU 2019

Jakarta, 14 November 2018

Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)

Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat-Lebang (Ketua Umum PGI)
Mgr. Ignatius Suharyo (Ketua KWI)
Pdt. Gomar Gultom (Sekretaris Umum PGI)
Mgr. Antonius Bunjamin, OSC. (Sekretarian Jenderal KWI)

Memayu Hayuning Bawana

Memayu Hayuning Bawana

~ Puncak Pesta Syukur Ultah Paroki Pemalang dan Pesta St Lukas Pelindung Paroki ~

Ditulis oleh: Bonaventura Pandu Satya Hadmaja

Pentas Seni Puncak Syukur, 27 Oktober 2018

Pemalang - Ratusan umat tampak memadati halaman gereja Paroki Santo Lukas Pemalang pada Sabtu (27/10) sore. Kali ini bukan untuk mengikuti perayaan ekaristi. Para umat datang untuk menyaksikan juga meramaikan pentas seni dan pesta umat puncak HUT dan Pesta St Lukas Pelindung Paroki Pemalang.

Diawali dengan doa Angelus pada pukul 18.00 WIB, umat yang hadir dihibur dengan berbagai acara yang sudah dipersiapkan. Mulai dari pertunjukan tarian modern dari TK dan SD Pius Pemalang. Penampilan musik dari SMP Pius Pemalang. Tari tradisional dari SMA Pangudi Luhur Santo Lukas Pemalang. Tembang Macapat dari Bapak dan Ibu Soewandi. Hingga persembahan keroncong dari OMK Pemalang.

Acara puncak pada pentas seni ini adalah pentas ketoprak dengan judul "Memayu Hayuning Bawana" yang diperankan oleh Romo Kristi Adi, Komunitas Guru, Kelompok Karyawan/Karyawati Muda Katolik (KKMK) dan beberapa umat Paroki Santo Lukas Pemalang. Pentas ketoprak ini diiringi gamelan yang ditabuh oleh Romo Sumanto dan umat yang tergabung dalam Laras Lukas.

Pentas ketoprak yang disutradarai oleh Benedictus Unin dari KKMK Pemalang mengisahkan tentang kisah mengenai awal dibangunnya gereja St Lukas Pemalang oleh beberapa umat untuk membantu memfasilitasi umat dalam berdoa dan beribadah.

"Memayu Hayuning Bawana sendiri merupakan falsafah jawa dari Ki Ronggo Warsito yang intinya adalah kita berkewajiban untuk selalu mempercantik, memperindah dan menyelamatkan hidup dan penghidupan yang ada di dunia," jelas Unin.

Naskah ini sendiri dibuat oleh Unin dengan dibantu Romo Kristi Adi dan beberapa umat dengan referensi dari beberapa naskah ketoprak yang ada.

Ide adanya pentas ketoprak ini sendiri muncul dari Romo Kristi Adi. Romo menginginkan agar umat bisa duduk bersama untuk menikmati sebuah pertunjukan yang disiapkan. Selain itu, mulai hidupnya kembali kelompok karawitan paroki juga menguatkan ide ini, sehingga tidak hanya untuk engiringi kor untuk perayaan ekaristi bahasa Jawa.

Persiapan pementasan ketoprak ini bisa dibilang sangat singkat. Proses latihannya dimulai sejak bulan September. Namun Romo Kristi yang juga ikut terlibat dalam dinamika ini merasa senang.

"Senang dan gembira mengikuti dinamika prosesnya. Di situ ada kerendahan hati untuk menerima masukan, kesetiaan dalam proses" ungkap Romo Kristi.

Pentas Seni berjalan dengan lancar. Selain dihadiri oleh banyak umat, hadir pula Plt. Kepala Desa setempat, H. Mudatsir (Ketua FKUB Kab. Pemalang), dan Pendeta Happy (ketua BKSG kab. Pemalang).

Misa Syukur dan Pelantikan DPP Paroki 2018-2021 (28 Oktober 2018)

Keesokan harinya, umat kembali berkumpul di gereja untuk merayakan perayaan ekaristi puncak syukur HUT dan Pesta St Lukas Pelindung Paroki Pemalang. Perayaan ekaristi ini dipimpin langsung oleh Mgr Christophorus Tri Harsono dan didampingi Romo Kristi Adi Pr dan Romo Sumanto. Pada perayaan ekaristi ini, 114 anggota dewan pastoral paroki yang baru dilantik oleh Mgr Tri Harsono.

Pada kesempatan ini pula, beberapa sesepuh umat di paroki dan stasi mendapatkan penghargaan dan ucapan terimakasih atas karyanya dalam mengembangkan gereja stasi dam paroki. Sebelumnya, panitia bersama Romo mengunjungi para sesepuh sebagai bentuk sapaan dari umat.

Dalam khotbahnya, Mgr. Tri menekankan tentang pentingnya menghidupi komitmen baptis dengan berkualitas, salah satunya dengan terlibat aktif dalam kehidupan menggereja dan memasyarakat. Selesai misa, Mgr. Tri berkenan memberkati Gedung Koperasi CU Winasis di depan SMA PL St. Lukas Pemalang. Setelah itu, beliau berwawan hati dengan anggota DPP. 

last but not least, 

Perlu diketahui bersama bahwa dinamika HUT dan Pesta St Lukas Pelindung Paroki Pemalang sudah berlangsung sejak April hingga Oktober 2018. Banyak kegiatan yang sangat padat tiap bulannya. Seluruh umat ikut terlibat dalam kegiatan ini. Mulai dari komunitas guru katolik, hingga siswa-siswi dari sekolah-sekolah katolik yang ada.

Melihat keterlibatan seluruh umat, Romo Kristi sebagai Romo paroki sangat bersyukur dan berterimakasih untuk keterlibatan umat. Romo Kristi juga berharap setelah menggarap tema Gereja yang beriman mendalam, Gereja yang hidup dan Gereja yang mandiri dan dewasa, Gereja dapat semakin memasyarakat.

"Harapannya tahun ini dan tahun-tahun ke depan, Gereja dapat semakin memasyarakat. Kehadirannya dirasakan masyarakat, sehingga masyarakat juga dapat merasakan kasih dan kepedulian dari umat Paroki Santo Lukas Pemalang", pungkas Rm. Kristi. 








Sabtu, 03 November 2018

Mendoakan dan Mengenang (Homili Perayaan Ekaristi Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, 2 November 2018)

Gambar terkait










Homili: RD. Frans Kristi Adi Prasetya


Hari ini kita mendoakan dan mengenang saudara-saudara kita yang telah meninggal namun masih berada di Api Penyucian. Bahkan seluruh bulan November ini kita khususkan untuk berdoa dan berkorban untuk memohon kerahiman Allah atas mereka. Hal ini kita lakukan karena di dalam Yesus Kristus, Penyelamat semua orang yang, merindukan keselamatan dari Allah dengan tulus hati, kita tetap bersatu padu dengan mereka. Dalam iman akan Kristus itu, kita percaya bahwa apa yang kita namakan Persekutuan para Kudus meliputi baik kita yang masih hidup di dunia ini, maupun semua Orang Kudus di surga, dan semua orang yang telah meninggal. Bersama-sama kita membentuk dan terhimpun di dalam satu Gereja, yaitu Tubuh Mistik Kristus. Dalam Kamus Teologi yang disusun oleh Rm. Gerald SJ dan Rm Farrugia SJ, ada tiga macam Gereja yaitu Gereja Jaya (para kudus di surga yang kita rayakan kemarin), Gereja militan (yaitu kita yang masih berjuang di dunia), dan Gereja yang menderita (jiwa-jiwa di api penyucian). Nah, inilah yang sekarang ini kita bawa dalam doa-doa secara khusus. 


MENGENANG – mengingat kembali, membangkitkan kembali dalam ingatan. Doa kita akan terlantun tulus benar-benar demi keselamatan jiwa saat yang kita masukkan dalam ingatan adalah pengalaman positif dan cinta. Tapi emosi negatif, luka, dendam, akan membuat segala hal baik terlupakan. Saya mengajak anda untuk mengenang hal-hal baik, mengenang cinta saudari-saudara kita yang telah meninggal. Ini akan berdampak baik tidak hanya untuk orang yang kita kenang dan lebih-lebih didoakan, tapi juga akan menghapus setiap rasa sesal, rasa bersalah, luka, apalagi dendam yang membebani hidup kita. Saya sering berjumpa dan mendengar kisah orang yang mengatakan betapa berat dan merasa bersalahnya iya karena sampai ortunya meninggal ia menyimpan luka, tidak bisa membahagiakan, tidak mengucapkan maaf, dan lain sebagainya. Mengenang hal-hal positif dan cinta saudari-saudara kita yang telah meninggal juga akan memberi kekuatan pada kita juga untuk mengenang hal-hal baik yang dilakukan orang-orang di sekitar kita. 

Ada kisah demikian: 
Dua orang biksu yang sedang bepergian tiba di tepi sebuah sungai, sungai itu cukup dalam, dan ternyata jembatan yang biasa digunakan orang-orang untuk menyebrang, patah.
Disitu tampak seorang wanita cantik yang mengenakan pakaian sutera mewah, dia terlihat sedang kebingungan. Kedua biksu itupun menghampirinya, dan menanyakan apa yang sedang dia lakukan dan mengapa dia tampak begitu kebingungan.
Rupanya dia ingin menyeberang, namun khawatir jika dia berjalan melewati sungai itu, baju suteranya akan kotor dan rusak, jadi dia hanya bisa diam dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Kedua biksu ini ingin membantu namun tahu bahwa seorang biksu tidak boleh bersentuhan dengan wanita, maka merekapun tidak dapat berbuat apa-apa.
Merasa sedang buru-buru, kedua biksu itupun memutuskan untuk segera berangkat dan menyeberangi sungai.
Biksu yang lebih muda segera pamit pada wanita itu dan bergegas turun ke sungai, sementara biksu yang lebih tua, justru berkata kepada wanita itu bahwa dia akan membantunya.
Belum sempat wanita itu menjawab, biksu yang lebih tua segera menggendongnya dan turun ke sungai, dan menyeberang ke sisi lain sungai.

Sesampainya di seberang, wanita itu segera turun, dan , bukannya berterima kasih kepada biksu, wanita itu justru mendorongnya, dan kemudian berjalan pergi dengan wajah kesal.

Biksu muda yang melihat merasa aneh, mengapa biksu yang lebih tua menggendong seorang wanita, namun dia diam saja.

Kedua biksu itupun melanjutkan perjalanan mereka.

Biksu yang lebih muda terus memikirkan peristiwa tadi di sepanjang jalan, bahkan ketika mereka sudah sampai tujuan, bahkan sampai tiga hari, dan tiga minggu setelahnya. Akhirnya saking tersiksanya, sampai ia tak bisa bermeditasi, dia tidak tahan dan bertanya kepada biksu tua.

“Bukankah kita ini biksu? Bukankah biksu tidak boleh bersentuhan dengan wanita? Lalu mengapa tadi kamu menggendong seorang wanita?” Tanya biksu yang lebih muda ke biksu yang lebih tua

Dijawab: “Menggendong wanita? Wanita mana yang saya gendong? Sekarang ini, Saya tidak sedang menggendong siapapun. Saya sudah menurunkan wanita itu di tepi sungai, tapi engkau masih menggendongnya sampai di sini dan saat ini. 

Semoga hari ini, saat kita mengenang arwah saudari-saudara kita, kita diingatkan tentang kenangan kasih dan kebaikan mereka, sekecil apapun supaya kita mampu mendoakan mereka dengan tulus –untuk gereja yang menderita – agar dilepaskan dari siksa dosa. Semoga kitapun dilepaskan dari beban-beban masa lalu, luka, kekecewaan, mungkin kemarahan karena betapa indahnya menjalani hidup dengan lepas bebas, positive thingking, sukacita, dan penuh rasa syukur. Dimuliakanlah nama Tuhan kita Yesus Kristus kini dan sepanjang masa. 

Senin, 15 Oktober 2018

Jalan Sukacita bersama Yesus



Jalan Sehat Sukacita Paroki St Lukas Pemalang
14 Oktober 2018

Jam setengah enam pagi, saat pagi masih sejuk, dan riang karena kicau burung bersahutan, halaman Gereja Paroki St Lukas Pemalang sudah mulai ramai dan sibuk. Suara iringan musik dan cakap-cakap umat yang mulai berkumpul di halaman paroki riuhkan suasana pagi yang cerah. Hari ini, 14 Oktober 2018, dalam rangka pesta syukur ulang tahun paroki ke-47 dan Pesta St. Lukas Pelindung Paroki, panitia mengadakan acara Jalan Sehat Sukacita. Syukurlah, pagi ini telah diawali dengan sukacita dan kegembiraan pula.

suasana pagi hari sesaat sebelum jalan sehat sukacita dimulai

Setelah lonceng angelus berdentang mengiringi doa angelus, ketua panitia, Pak Eka Purwanta menyampaikan beberapa kata pengantar. Disusul kemudian Pak Joko Supraptono, koordinator kegiatan jalan sehat sukacita menyampaikan hal-hal penting terkait jalan sehat sukacita ini. 

Jam 06.30 tepat, Rm. Kristi Adi mengibarkan bendera start untuk mengawali perjalanan jalan sehat sukacita. Banyak umat yang tersenyum riang, bersenda gurau, sukacita sekali. 

Umat lingkungan dan stasi menanggapi kegiatan ini dengan gembira dan antusias. Sekitar 300 umat lingkungan dan stasi mengikuti jalan sehat sukacita ini, dari anak-anak sampai beberapa lansia ikut bergabung. Rute perjalanan tidak terlalu jauh, melintasi jalan pemuda, jalan sindoro, jalan merbabu, tembus ke jalan pemuda lagi dan finis di Gereja Paroki St. Lukas Pemalang. 

Seusai finis, umat berkumpul di halaman Gereja sambil menyantap sarapan pagi di kelompok lingkungannya masing-masing. Terlihat suasana yang guyub rukun, saling berbagi makanan dan minuman. Panitia juga tidak menyiapkan air minum dalam kemasan karena peserta diminta membawa botol air minum sendiri. Panitia hanya menyediakan air minum isi ulang dalam galon-galon. Hal ini dibuat untuk mengurangi sampah plastik. Beberapa umat stasi yang tidak membawa makanan bahkan diajak bergabung oleh lingkungan-lingkungan untuk bergabung menyantap sarapan. Indahnya berbagi.

Sambil bercengkrama dan bersenda gurau, mulailah pengundian doorprize-doorprize. Hadiah mulai dari yang paling kecil tapi banyak: minyak goreng, sarung, payung. Meski kecil dan sederhana tapi umat yang mendapatkannya menyambut dengan gembira pula. Sebelum pengundian hadiah utama, umat berkumpul di tengah halaman untuk flash mob. Goyang kewer-kewer menjadi pengiring musik flash mob ini. 

Umat menunggu sampai pengundian hadiah utama ini. Hadiah ketiga berupa lemari didapatkan oleh Felix Kurniawan. Hadiah kedua berupa sepeda gunung didapatkan oleh Bu Theresia. Hadiah Utama berupa lemari es didapatkan oleh Bu Sisil. Kegembiraan mereka yang mendapat bonus tentu saja tidak melunturkan kegembiraan umat yang mengikuti kegiatan ini. Panitia pun bergembira karena acara berjalan lancar dan sukses, penuh sukacita dan kegembiraan. 































Videos

Visi Paroki

Paroki Santo Lukas Pemalang adalah persekutuan umat Katolik yang beriman mendalam, hidup, mandiri, dan memasyarakat sebagai tanda hadirnya Kerajaan Allah.




Recent Post